Lenin Lenin dan Partai Bolsyevik

Oleh Julian

TEORI dan praktek Lenin sering digambarkan sebagai prinsip-prinsip agung yang tidak boleh dibantah: sentralisme demokratik sebagai prinsip organisasi, partai pelopor sebagai pimpinan revolusi, teori tentang imperialisme sebagai kebenaran yang mutlak, dan lain sebagainya. Ataupun sebagai gagasan yang jahat: diktator proletariat sebagai kediktatoran "fasis", partai pelopor sebagai bentuk organisasi yang elitis dan menuju ke Stalinisme, dan seterusnya. Terlalu jarang Lenin ditelaah sebagai manusia yang berjuang selama bertahun-tahun dengan banyak kekalahan, yang sering keliru dan berubah sikap.

Prinsip-prinsip pokok "Bolshevisme" harus juga dimengerti sebagai sesuatu yang timbul secara berangsur-angsur dalam perkembangan perjuangan kelas buruh Rusia. Vladimir Ilyich Ulyanov (yang kelak mengambil nama samaran "Nikolai Lenin") lahir pada tahun 1870. Ayahnya seorang inspektur sekolah-sekolah di daerah Volga. Kakaknya Aleksander turut aktif dalam gerakan populis radikal, dan dihukum mati pada tahun 1887 karena berkomplot untuk membunuh Tsar. Beberapa bulan kemudian Vladimir Ilyich ikut berdemonstrasi di kampus dan dikeluarkan dari universitas. Selama beberapa tahun dia mencari akal tentang jalan mana yang harus ditempuhnya, apakah jalan populis seperti kakaknya atau jalan lain. Mula-mula dia terpengaruh oleh populisme, namun setelah mempelajari "Das Kapital" dia semakin cenderung ke arah Marxis.

Para aktivis dan intelektual dari kalangan Marxis saat itu cukup beraneka-ragam, karena peranan Marxisme sendiri masih bersifat agak mendua. Masyarakat Rusia waktu itu masih kurang-lebih feodal dan bibit-bibit kapitalisme baru bertumbuh. Walau di barat Marxisme dimengerti sebagai teori anti-kapitalis, di Rusia sering dipahami sebagai teori yang meramalkan kemenangan kapitalisme atas feodalisme, sehingga pada dasarnya sebagian dari "Marxis" adalah liberal borjuis. Sedangkan pemerintah mentolerir literatur Marxis karena dikira kurang berbahaya dibandingkan dengan kelompok teroris populis, sehingga timbul yang namanya "Marxisme legal" tapi yang pada intinya hanya liberal saja. Mungkin Lenin bisa menerima situasi ini kalau suasana politik begitu toleran untuk semua kegiatan kiri. Namun para aktivis revolusioner yang tidak hanya mau menulis buku dan mengucapkan sentimen "radikal" kosong, melainkan ingin menumbangkan Tsar, mesti menghadapi aparat keamanan dan polisi rahasia. Itulah sebabnya Lenin mulai menuntut agar kaum Marxis mendirikan sebuah partai yang memiliki disiplin ketat, dan dia belajar membedakan antara kata-kata seseorang dan sepak terjangnya. Di sini kita melihat latar belakang konkrit "sentralisme" ketat dalam partai Bolsyevik di masa ilegal. Dan seharusnya jelas bahwa aspek ini bukan prinsip abadi, melainkan sebuah respon terhadap kondisi-kondisi tertentu. Dalam kondisi lain kelak, Lenin menunjukkan pendekatan yang agak berbeda.

Bagaimana kaum Marxis bisa menyesuaikan pandangan bahwa kapitalisme bersifat progresif (dalam kondisi feodal di Rusia) dengan pentingnya menjaga independensi kelas buruh untuk berjuang melawan kapitalisme itu? Masalah ini diselesaikan Lenin (untuk sementara) dengan argumentasi bahwa revolusi borjuis-demokratik harus dipimpin oleh kelas buruh. Menurut teori ini, kelas borjuis Rusia timbul terlambat dan tetap lemah, sehingga hanya kaum buruh dengan dukungan kaum tani yang mampu menumbangkan Tsar. Untuk itu, kelas buruh mesti memfokuskan pada masalah politik dan memimpin semua perjuangan demokratis yang berhubungan dengan kelompok sosial manapun.

Kritik Terhadap Kelompok-Kelompok "Ekonomis"

Teori ini tidak disukai oleh sejumlah aliran politik radikal yang dijuluki "ekonomis" oleh Lenin. Menurut kaum "ekonomis", gerakan sosialis tidak harus memusatkan perhatiannya pada perjuangan melawan Tsar melainkan perjuangan-perjuangan ekonomik-normatif kaum buruh. Di kancah politik mereka mesti ikut upaya reformasi-liberal yang dipimpin kelas menengah. Aliran-aliran reformis ini dilawan oleh Lenin dalam tulisannya Apa Yang Harus Dilakukan? (What is to be Done?) Pihak ekonomis berpendapat bahwa "perkembangan politik selalu menurut kecenderungan ekonomi", dan memuji-muji perjuangan spontan kelas buruh; mereka menuduh Lenin "menyepelekan" hal-hal ini. Lenin membalas bahwa perjuangan spontan itu memang sangat penting, tapi justru karena itu perjuangan tersebut mewajibkan para revolusioner untuk mengadakan intervensi politik. "Unsur-unsur spontan itu tidak lain adalah kesadaran dalam bentuk embrional" dan para revolusioner harus melakukan intervensi untuk mengembangkan kesadaran itu. Jika mereka hanya "mengekor" perjuangan spontan kaum buruh, perjuangan itu tidak akan melampaui tuntutan normatif.

Menurut Lenin kelas buruh harus belajar politik dalam semua bentuk: "Cita-cita kaum sosialis seharusnya tidak menjadi sekretaris serikat buruh, tetapi menjadi corong rakyat, yang mampu bereaksi terhadap setiap tirani dan penekanan, tidak peduli di mana munculnya, tidak peduli golongan apa yang bersangkutan; yang mampu menggeneralisir semua perwujudan ke dalam sebuah gambaran dari kekejaman polisi dan eksploitasi kapitalis; yang mampu mengambil keuntungan dari setiap kejadian betapapun kecilnya, untuk menyatakan di depan umum pendirian sosialis dan tuntutan demokratisnya, demi menjelaskan kepada semua orang tentang pentingnya perjuangan sejarah dunia untuk emansipasi kaum proletar." Peranan itu hanya bisa dimainkan mereka dengan bantuan sebuah koran yang terbit secara reguler. "Sebuah koran yang tidak hanya melakukan propaganda dan agitasi kolektif, tetapi juga harus menjadi organisator kolektif."

Sosialisme "Dari Luar"?

Menurut Lenin, kaum revolusioner harus melakukan intervensi supaya kesadaran kelas buruh bisa berkembang menjadi kesadaran revolusioner. Namun rumusan-rumusan ini sebenarnya agak problematik. Lenin sering dituduh elitis, sok menggurui kaum buruh. Tuduhan itu sebagian benar juga. Sebagai aktivis muda yang masih kurang pengalaman, dia berbuat seperti kita semua dan mencari masukan tambahan dari buku-buku yang dianggap sebagai karya "klasik". Dalam kasus ini Lenin mengambil argumentasi dari "Paus Marxisme" Karl Kautsky. Menurut Kautsky "sosialisme dan pertentangan kelas muncul bersama tetapi yang satu tidak berasal dari yang lain ... Golongan intelektual adalah wahana ilmu, bukan proletariat." Lenin menulis lebih lanjut bahwa "di Rusia teori sosial-demokrasi [artinya disini: sosialis] timbul secara independen dari perkembangan spontan gerakan kelas buruh; teori itu timbul sebagai hasil alamiah dari perkembangan pikiran golongan intelektual revolusioner." Dan Lenin menarik kesimpulan bahwa kesadaran revolusioner kelas buruh harus dibawakan dari luar. Jelas rumusan-rumusan ini bersifat elitis, dan sangat bertentangan dengan apa yang ditulis Marx sendiri.

Seperti dipaparkan oleh John Molyneux dalam "Mana Tradisi Marxis Yang Sejati?": "Dalam Manifesto Komunis Marx memberikan penjelasan lain mengenai peranan golongan intelektual sosialis: 'sebagian dari kaum ideolog borjuis yang mampu untuk mengerti perkembangan historis' membelot dari kelas kapitalis dan 'menyeberang ke kubu proletariat. Yang jelas, mereka tidak bisa 'menyeberang' ke sebuah golongan yang belum berkembang dan belum berdampak dalam perjuangan sosial (seperti di Rusia sebelum tahun 1905 -- saat Lenin menulis argumentasi yang salah itu)." Begitu melihat pemberontakan buruh tahun 1905 dan perubahan cepat yang terjadi dalam kesadaran kelas buruh saat itu, Lenin meninggalkan pendapat elitis ini. Pada awal kongres kedua Partai Sosial-Demokrat Buruh Rusia pada tahun 1902, semua tokoh intelektual terkemuka mengaku setuju dengan argumentasi dalam Apa Yang Harus Dilakukan?.

Namun begitu mereka membicarakan penerapan praktis, mereka segera terjerumus ke dalam konflik. Terjadi perpecahan tentang AD/ART dan juga tentang komposisi dewan editorial. Dalam hal AD/ART Lenin mendapati diri dalam minoritas, namun dalam hal dewan editorial dia meraih mayoritas sementara. Nama Bolsyevik berarti "kaum mayoritas" dan Mensyevik berarti "kaum minoritas". Perbedaan pendapat ini tampaknya sepele, tetapi Lenin ngotot pada AD/ART yang lebih ketat karena dia menginginkan sebuah partai yang kuat. Karena orientasi itulah Lenin kerap dituduh seorang otoriter, tetapi tuduhan itu salah arah. Kaum Bolsyevik saat itu harus bergerak di bawah tanah sehingga membutuhkan organisasi ketat. Begitu mereka bisa bergerak secara legal (pada tahun 1905 misalnya), Lenin selalu menuntut agar "pintu-pintu partai dibuka". Dan di tahun 1902 pun dia membedakan antara partai dan kelas. "Partai, sebagai barisan pelopor kelas buruh, tidak boleh dibingungkan dengan keseluruhan kelas itu." Sebelum Lenin, semua tokoh Marxis kurang-lebih meyamakan antara partai dan kelas. Sebagai akibatnya, unsur-unsur konservatif dalam kelas buruh harus diwakili oleh sebagian dari partai sosialis. Lenin, dimotivasi oleh kepentingan kegiatan ilegal, putus dengan tradisi itu dengan berargumentasi bahwa berkembangan kesadaran dalam kelas buruh selalu akan berlangsung secara tidak merata, dan partai revolusioner harus merekrut para aktivis yang paling sadar. Inilah titik tolak untuk "vanguard party" alias partai pelopor Leninis yang terkenal.

Revolusi Tahun 1905

Perselihan antara kelompok Bolsyevik dengan Mensyevik menjadi lebih tajam akibat revolusi tahun 1905. Meski Lenin menganggap revolusi itu sebagai revolusi borjuis-demokratik, namun ia mengakui kelemahan kelas borjuis sendiri, sehingga menurut Lenin revolusi itu harus dijalankan oleh kelas buruh dan kelas petani. Kemenangan revolusi akan bermuara dalam "diktatur demokratik kaum proletariat dan kaum tani" di bawah pemerintahan bersama partai Marxis (mewakili kaum buruh) dan partai radikal petani yang bernama "Sosialis-Revolusioner" (SR). Pemerintah ini akan menghapuskan semua sisa feodal, kemudian akan mengadakan persidangan konstituante. Karena mayoritas masyarakat adalah petani dan bukan buruh, konstituante itu akan menghasilkan sebuah republik non-sosialis yaitu borjuis-demokratik. Dengan cara ini, kaum Marxis bisa menjamin perubahan borjuis-demokratik yang paling luas dan tuntas (seperti revolusi Perancis 1789) dan itu akan menciptakan kondisi yang paling menguntungkan bagi perjuangan sosialis kelak. Kelompok Mensyevik tidak setuju; mereka berpendapat bahwa dalam revolusi borjuis, burjuasilah yang harus memimpin. Kaum Marxis memang harus memberi tekanan pada kelas bourjis, tetapi jangan sampai kaum borjuis ketakutan. Pada awal revolusi kaum Mensyevik memang ikut berjuang bersama buruh revolusioner lainnya, namun kemudian mereka semakin ragu-ragu. Melihat tingkah-laku kelompok Mensyevik itu, Lenin menyimpulkan bahwa oportunisme dalam hal organisasi memang berkaitan dengan oportunisme di bidang politik.

Namun di saat yang sama, pandangan Lenin berubah mengenai hubungan antara partai dan kelas. Dia tidak lagi berpikir bahwa ide-ide sosialis harus didatangkan "dari luar", melainkan seperti yang dia ungkapkan: "Tidak bisa disangkal lagi bahwa revolusi akan mengajarkan sosial-demokrasi [artinya di sini: sosialisme] kepada massa buruh di Rusia ... kelas buruh adalah sosial-demokratik secara naluriah, secara spontan, dan jerih-payah kaum sosial-demokrat sudah cukup berhasil untuk menjelmakan spontanitas itu menjadi kesadaran." Di sini, intervensi kaum revolusioner tetap penting, tetapi hanya untuk mengembangkan kecenderungan sosialis yang sudah hidup di jantung hati kelas buruh. Salah satu akibat pikiran baru ini adalah perjuangan Lenin melawan dominasi para pejabat kecil dalam partai ("komitetcik" - orang-orang komite). Orang-orang ini memainkan peranan berharga di masa ilegal, tetapi dalam revolusi mereka menonjolkan sikap konservatif, dan tidak mau melepaskan mentalitas "sosialisme dari luar" bahkan memperlakukan rekrut-rekrut baru dari kelas buruh secara arogan. Lenin mau membuka pintu bagi hampir semua buruh yang mau masuk partai, dan ingin supaya mereka cepat masuk kepemimpinan lokal di daerah-daerah. Para "komitetcik" juga bersikap agak curiga terhadap soviet (dewan buruh) yang timbul di ibukota. Fenomena baru ini, yang kelak berperanan besar dalam revolusi 1917, mengejutkan mereka saat itu, sedangkan Lenin sendiri antusias.

Hal ini tidak berarti Lenin menerima konsep Mensyevik yang menganut partai yang luas dan longgar. Partai Bolsyevik hanya bisa membuka pintu pada tahun 1905 tanpa membahayakan keutuhannya karena selama tahun-tahun sebelumnya partai itu membangun sebuah organisasi yang ketat dan membina kader secara sistematis, sehingga dalam revolusi 1905 para kader itu tidak kewalahan dengan gelombang rekrut baru. Dan di masa reaksi setelah kalahnya revolusi, Lenin kembali ke perjuangan ideologis supaya kelompok Bolsyevik bisa bertahan sebagai organisasi Marxis yang kokoh, sampai kondisi-kondisi menjadi lebih menguntungkan pada tahun 1912. Setelah aparat membantai buruh tambang emas di kota Lena di tahun itu, Lenin mendirikan sebuah koran harian legal bernama Pravda (Kebenaran). Koran ini menggabungkan sebuah garis politik revolusioner dengan surat dan berita dari buruh tentang pengalaman mereka sendiri. Oplah Pravda naik terus hingga mencapai 40.000 dan koran ini memuat 11.000 surat dan berita dari buruh dalam satu tahun saja. Untuk mendanai koran tersebut, kaum Bolsyevik mendirikan lingkaran buruh dimana-mana untuk mengumpulkan dana. Pada tahun 1913 Pravda mendapatkan sumbangan dari 2.181 lingkaran buruh, sedangkan koran-koran Mensyevik hanya mendapatkan sumbangan dari 671 kelompok lokal. Artinya, Lenin adalah Marxis pertama yang berhasil membangun sebuah partai yang hanya terdiri atas orang-orang revolusioner (tanpa sayap kanan oportunis) sekaligus berbasis massa dalam kelas buruh.

Sifat-Sifat Partai Bolsyevik

Adalah berguna untuk mencatat sifat-sifat dasar partai ini. Kelompok Bolsyevik hampir selalu bergerak di bawah tanah, berbeda dengan partai-partai sosialis di barat yang biasanya legal, sehingga kaum Bolsyevik tidak memiliki sebuah lapisan birokrat yang besar seperti partai sosialis Jerman umpamanya. Dalam partai-partai di barat, lapisan itu, yang terdiri atas pejabat partai, pejabat serikat buruh, anggota parlamen dlsb, berpengaruh sangat konservatif. Partai Bolsyevik memang punya "komitetcik" tadi, namun ini persoalan kecil dibandingkan dengan masalah birokrasi di barat. Komposisi Partai Bolsyevik amat proletarian. Menurut ahli sejarah David Lane, pada tahun 1905 partai itu terdiri dari buruh "kerah biru" (61,9%), pekerja "kerah putih" (27,4%), petani (4,9%) dan orang lain (5,9%) dan David Lane menyimpulkan bahwa Partai Bolsyevik bisa dikatakan sebuah "partai buruh" sedangkan Partai Mensyevik adalah lebih "borjuis-kecil". Disebabkan oleh strategi elektoral mereka, partai-partai di barat memiliki sebuah struktur geografis, dengan cabang-cabang lokal di daerah-daerah permukiman. Hubungan antara partai dan massa buruh dijalin melalui serikat-serikat buruh.

Sedangkan di bawah pemerintahan otokratik di Rusia, pemilihan umum jarang penting, dan cabang-cabang Partai Bolsyevik cenderung berdiri di tempat-tempat kerja. Struktur ini menyebabkan hubungan yang lebih intim antara partai dan kelas buruh, dan kaitan antara perjuangan ekonomi dan perjuangan politik lebih erat. Angota-angota Partai Bolsyevik pada umumnya cukup muda. Pada tahun 1907, kira-kira 22% berusia kurang dari 20 tahun, 37% berumur antara 20 dan 24 tahun, dan 16% berusia antara 25 dengan 29 tahun. Dan kelompok Bolsyevik berdisiplin. Yang penting di sini bukan rumusan "sentralisme demokratik". Sebenarnya rumusan itu juga digembar-gemborkan kaum Mensyevik dan kelompok-kelompok radikal lainnya. Namun sebuah organisasi yang memiliki baik sayap revolusioner maupun sayap reformis -- yaitu unsur-unsur dengan tujuan yang bertentangan -- tidak mungkin berdisiplin. Partai Bolsyevik dapat menerapkan disiplin intern karena para kader memiliki pengertian bersama tentang tugas-tugas revolusi. Dan ini tidak menghalangi aktivis-aktivis di basis partai mengambil prakarsa independen. Sebaliknya. Dalam kondisi ilegal sia-sia saja kalau para aktivis mau menunggu instruksi dari pimpinan. Mereka bisa dipercaya untuk mengambil inisiatif karena -- sekali lagi -- para kader Bolsyevik memiliki pengertian bersama.

Lenin Putus dengan Sosial-Demokrat

Kaum Bolsyevik sebelum Perang Dunia I pernah dilukiskan Trotsky sebagai "cabang yang paling revolusioner dari aliran sosial-demokrat". Walau dalam praktek Lenin sudah mengembangkan pendekatan baru dalam membangun partai, namun pendekaten baru itu masih dilihatnya sebagai suatu kekecualian yang disebabkan oleh kondisi ilegal di Rusia. Dia belum menggeneralisir pengalaman konkrit di Rusia itu menjadi sebuah teori yang lebih umum, melainkan dia terus melihat partai-partai sosdem di barat sebagai model "klasik". Sehingga Lenin terperangah ketika mendengar kabar bahwa partai-partai itu telah mengkhianati komitmen mereka untuk melawan Perang Dunia tersebut. Kemudian dia mengkaji kembali seluruh aliran sosial demokrat (Internasional Kedua). Dalam waktu beberapa bulan Lenin sudah mengusulkan agar kaum Bolsyevik meninggalkan nama sosdem "yang sudah dikotori" dan kembali ke "nama Marxis lama: Komunis".

Pada tahun 1915 konferensi partai Bolsyevik menyerukan agar kaum revolusioner mendirikan sebuah aliran baru: Internasional Ketiga. Lenin menunjuk kepada dua sifat buruk dalam aliran sosdem. Yang pertama, gerakan sosial-demokrat itu berasal dari masa damai -- bukan hanya dalam artian tidak terjadi perang antar-bangsa tetapi juga tidak ada banyak perjuangan kelas di dasawarsa sebelum perang -- sampai kaum sosial-demokrat terbiasa akan metode-metode legal dengan bertumbuhnya organisasi massa legal, sehingga mereka tidak mampu dan tidak berkeinginan kembali ke kegiatan ilegal. Yang kedua, aliran sosdem adalah semacam koalisi antara unsur revolusioner dengan unsur oportunis -- dan kaum revolusionerlah yang dirugikan. Kautsky pernah menggambarkan partai-partai sosdem sebagai "alat-alat yang cocok bagi masa damai dan tidak sesuai untuk perang".

Menurut Lenin, Internasional Ketiga justru harus menjadi senjata bagi perang sipil internasional melawan rezim-rezim imperialisme borjuis. Baru sekarang kritik Lenin terhadap oportunisme Mensyevik digeneralisirnya menjadi sebuah teori umum tentang bentuk organisasi yang diperlukan di mana-mana. Namun masalah organisasi bukan persoalan yang paling pokok. Teori dan praktek Marxisme harus diperbarui secara umum. Partai-partai sosdem telah menghasilkan (dan juga dihasilkan oleh) sebuah versi Marxisme yang mekanis dan fatalistis yang berharap merebut kekuasaan dari borjuasi melalui parlemen. Menurut para pimpinan sosdem, kemenangan ini tidak dapat dihindarkan asalkan partai-partai sosial-demokrat tidak "gegabah" dalam berjuang, supaya organisasi-organisasi massa mereka (partai, serikat buruh dll) tidak dibahayakan. Dalam praktek mereka menjadi semakin konservatif.

Selama tahun-tahun pertama Perang Dunia I, Lenin secara getol mempelajari masalah-masalah teoretis, untuk memperbarui Marxisme menjadi sebuah teori revolusioner lagi, dengan menelaah tiga bidang utama: filsafat, ekonomi (analisis tentang imperialisme) serta politik (peranan aparatus negara). Lenin belajar filsafat dialektis Hegel, dan berdasarkan studi ini dia mengembalikan dialektika (prinsip-prinsip perubahan cepat, kontradiktif dan revolusioner) ke jantung teori sosialis. Ini penting supaya kaum revolusioner mengerti bahwa tugas mereka bukan hanya menunggu dengan sabar, melainkan juga harus melakukan intervensi dalam krisis-krisis yang akan tiba. Di bidang ekonomi, Lenin ingin menunjukkan bahwa situasi internasional sudah matang untuk berdirinya sebuah partai internasional yang tujuannya betul-betul revolusioner, bukan hanya dalam jangka panjang melainkan justeru dalam jangka pendek.

Dalam buku kecil, Imperialisme, Tahap Tertinggi Kapitalisme dia berargumentasi bahwa imperialisme muncul sebagai akibat transformasi kapitalisme dari sistem persaingan bebas menjadi sistem monopoli di mana negara-negara kuat berebutan mengambil alih negeri-negeri yang belum berkembang. Dalam sistem itu perusahaan-perusahaan raksasa bersekutu dengan aparatus-aparatus masing-masing negara nasional berada dalam kemelut untuk menyita sumber-sumber kekayaan, sampai perang-perang imperialis meledak. Di saat yang sama, analisis Lenin tetang imperialisme menjadi landasan untuk kritiknya terhadap sosial-demokrasi. Ia berargumentasi bahwa sistem imperialis telah menghisap "superprofit" dari negeri-negeri tertindas dan profit itu sebagian disalurkan untuk menyogok lapisan-lapisan tertentu dalam kelas buruh. Lapisan itu pada gilirannya menjadi dasar sosial bagi oportunisme di bidang politik. Artinya, dalam kamus Lenin istilah "oportunis" bukan hanya sebuah konsep moralistis melainkan fenomena ini mempunyai dasar material. Argumentasi materialis ini adalah penting sekali bagi partai revolusioner. Partai itu mesti lepas dari semua unsur oportunis bukan hanya agar siap perang melawan borjuasi dan imperialisme, tetapi juga supaya mampu memerangi unsur-unsur reformis dan kecenderungan borjuis di dalam tubuh gerakan buruh sendiri. Pada masa muda kelompok Bolsyevik, Lenin sudah melihat persoalan ini tetapi dia menjelaskannya sebagai ketidakmampuan kelas buruh untuk mencapai kesadaran sosialis tanpa bantuan "dari luar" oleh golongan intelektual. Sekarang dia mengajukan analisis lain, bahwa selalu ada perjuangan di dalam gerakan buruh, antara unsur-unsur revolusioner dengan unsur-unsur reformis dan konservatif, yang hanya bakal dimenangkan oleh pihak revolusioner di masa revolusi sendiri. Sebelum itu, partai revolusioner akan tetap menjadi minoritas dalam gerakan buruh.

Analisis Lenin tentang aparatus negara (yang dipaparkannya dalam bukunya Negara Dan Revolusi) juga relevan bagi partai. Revolusi sosialis merupakan peralihan kekuasaan dari tangan kelas kapitalis ke tangan kelas buruh, sehingga sifat-sifat dasar aparatus negara ikut menentukan bentuk dan tugas partai. Pada dasarnya kaum sosial-demokrat berpendapat bahwa aparatus itu akan diambil alih oleh gerakan buruh dalam kondisi kurang-lebih utuh. Oleh karena itu, para politisi parlementar sosial-demokratik akan memainkan peranan utama dalam peralihan tersebut, sedangkan peranan kaum buruh sendiri menjadi agak pasif sehingga bentuk organisasi partai cenderung birokratis dan top-down. Sejak awal kaum Bolsyevik mempunyai orientasi lain, karena di Rusia tidak ada negara borjuis demokratik sama sekali. Tetapi sekarang Lenin harus menghadapi masalah ini secara internasional. Dia kembali ke telaah Marx tentang Komune Paris, yang menarik kesimpulan bahwa kelas buruh tidak bisa mengambil alih aparatus negara, melainkan harus menghancurkan negara tersebut dan menggantikannya dengan kekuasaan demokratis kaum buruh sendiri. Sebuah partai yang ingin memerangi aparatus negara tidak boleh didominasi oleh kaum politisi parlementer, melainkan mesti dimotori oleh para aktivis, terutama di tempat kerja.

Lagi pula, hubungan antara partai dan kelas juga bersifat jauh berbeda. Dalam skenario sosial-demokrat, partai sosialis akan mengambil alih kekuasaan dan kaum buruh harus tetap pasif. Dalam skenario Marxis dan Leninis, massa buruh harus bergerak untuk menumbangkan negara borjuis, kemudian mesti membentuk kekuasaan politik mereka sendiri. Bentuk kekuasaan buruh itu belum jelas bagi Lenin sebelum tahun 1917. Dia harus belajar dari pengalaman konkrit revolusi Februari bahwa soviet-soviet (dewan-dewan buruh) merupakan solusi yang dicarinya. Lantas dia menaikkan slogan terkenal: Semua Kekusasaan Untuk Soviet! Rinci-rinci teori Lenin banyak yang terbukti salah.

Sebenarnya tidak ada lapisan "aristokratik" dalam kelas buruh yang disuapi oleh imperialisme begitu saja -- untuk mengerti dominasi reformisme di barat kita harus belajar teori "hegemoni" Antonio Gramsci yang jauh lebih canggih. Istilah "super-profit" juga salah arah. Tenaga kerja di dunia ketiga tidak bisa di "super-eksploitasi", karena produktivitas kerja di negeri-negeri tersebut terlalu rendah. Aspek-aspek ini dalam teori Lenin juga mengandung implikasi politik yang berbahaya; kita bisa menyimpulkan bahwa kaum buruh di barat (yang "disuapi") adalah musuh dari kaum buruh di dunia ketiga (yang dihisap untuk menghimpun "super-profit" itu). Dan kita bisa kembali justru ke nasionalisme yang dilawan oleh Lenin sendiri. Maka aspek-aspek ini perlu direvisi. Namun di arena politik di tahun-tahun 1914-23, dalam garis besar, upaya pembaruan teori tersebut harus dinilai sangat berhasil.

Partai Bolsyevik dalam Revolusi 1917

Selama tahun 1917 Bolsehvik bertumbuh dengan pesat. Pada bulan Januari, para anggota partai berjumlah 23.600. Jumlah anggota meningkat terus hingga menjadi 70.204 pada bulan April dan kira-kira 200.000 pada bulan Agustus. Angka-angka ini masih agak kecil dibandingkan dengan jumlah penduduk Rusia saat itu, yakni 100 juta, akan tetapi para Bolsyevik amat terkonsentrasi dalam kelas buruh yang berkesadaran tinggi, sehingga di beberapa daerah industrial strategis, kelompok Bolsyevik sejak awal bisa memimpin kaum buruh. Badan demokratik pertama yang dikuasai pihak Bolsyevik adalah konferensi aktivis pabrik ibu kota yang diselenggarakan pada akhir Mei. Pada tanggal 18 Juni, ketika dewan eksekutif soviet (yang masih didominasi kelompok Mensyevik dan SR) mengadakan sebuah demonstrasi massa, 90 persen dari spanduk yang dibawa para perserta bertuliskan slogan-slogan Bolsyevik.

Menyaksikan revolusi Oktober, seorang Mensyevik terkemuka, Martov, harus menulis: "Harap mengerti, yang terjadi di depan mata kita adalah sebuah kebangkitan kaum proletariat -- hampir seluruh proletariat mendukung Lenin serta berharap mencapai emansipasi mereka lewat kebangkitan ini." Revolusi Februari tidak dipimpin oleh kaum Bolsyevik ataupun partai lain, melainkan oleh massa rakyat secara "spontan". Oleh karena itu kaum buruh dan prajurit revolusioner tidak bisa merebut kekuasaan, dan kekuasaan dalam pemerintah transisi tetap dipegang oleh unsur-unsur borjuis dan liberal. Para buruh dan prajurit sama sekali tidak puas dengan hasil itu. Sejak tanggal 3 Maret pertemuan-pertemuan prajurit dan buruh mulai menuntut agar soviet ibukota mengambil alih kekusaan, namun mereka belum memiliki organisasi dan kepemimpinan politik yang sunggup memaksa kehendak mereka. Kevakuman itu baru dipenuhi dengan bertumbuhnya partai Bolsyevik yang akhirnya bisa meraih mayoritas dalam soviet, menaikkan program revolusioner konkrit (Perdamaian, pangan, tanah! Semua kekuasaan untuk soviet!) guna menyatukan kaum buruh, tani dan prajurit kecil, yang kemudian menyelenggarakan insureksi secara berdisiplin.

Dari fakta-fakta ini, tidak sedikit pengamat yang menyebut revolusi Oktober sebuah kudeta saja. Bagaimana peranan partai Bolsyevik dalam merebut kekusaan bisa disesuaikan dengan prinsip demokratik bahwa kaum buruh dan rakyat sendiri yang harus berkuasa, melalui soviet-soviet? Untuk menelusuri masalah ini, mari kita menyimak pola pikiran Lenin selama tahun 1917. Lenin secara konsisten melawan semua afonturisme, misalnya dalam Tesis-tesis April yang menjadi dokumen strategis utama bagi revolusi Bolsyevik. "Dalam tesis-tesis itu," tulisnya beberapa waktu kemudian, "saya dengan tegas mereduksi persoalannya menjadi masalah perjuangan untuk mempengaruhi soviet-soviet ... dua kali saya tekankan perlunya kerjaan penjelasan yang sabar dan gigih dan sesuai dengan kepentingan praktis massa." Partai Bolsyevik boleh bertindak secara independen untuk menumbangkan rezim lama, karena aksi ini hanya merupakan tindakan destruktif saja. Lembaga-lembaga negara buruh sudah berdiri dalam bentuk soviet, dan hak partai Bolsyevik untuk bertindak berdasarkan mayoritas yang sudah diraihnya dalam soviet itu.

Seperti ditulis Lenin setelah berhasilnya pemberontakan tersebut: "Partai Bolsyevik adalah dalam mayoritas di Kongres Kedua Soviet Se-Rusia. Makanya hanya sebuah pemerintah yang dibentuk oleh pihak Bolsyevik merupakan pemerintahan soviet." Di dalam tubuh Partai Bolsyevik pun, perdebatan dan perjuangan demokratik harus terjadi agar partai itu menjadi siap melakukan revolusi. Saat Lenin pertama kali melontarkan slogan "Semua kekuatan untuk soviet" dia dilawan oleh seluruh pimpinan partai, yang masih pegang pada rumusan lama tentang "revolusi demokratik" yang dianggap mesti mendahului revolusi sosialis. Lenin harus meyakinkan mereka dengan argumen-argumen, bukan dengan senjata, dan itupun hanya mungkin karena argumentasinya senada dengan perasaan para aktivis buruh muda yang sedang masuk partai. Makanya revolusi yang dipimpin kaum Bolsyevik memiliki dasar demokratik yang kuat.

KOMINTERN: Sebuah Partai Revolusioner Internasional

Lenin dan Trotsky melihat revolusi di Rusia sebagai langkah pertama dalam revolusi internasional yang harus meluas ke seluruh Eropa. Oleh karena itu kaum Bolsyevik dan para simpatisan dari mancanegara mendirikan Internasional Ketiga (Internasional Komunis atau Komintern). Kongres pertama (1919) tidak berhasil banyak, namun dengan kongres kedua (1920) Komintern mengambil bentuk sebagai organisasi perjuangan internasional, yang berbeda dari Internasional Kedua (sosial-demokrat) dalam beberapa hal yang penting.

Yang pertama, Internasional Kedua adalah sebuah federasi longgar yang terdiri atas partai-partai nasional yang independen, sedangkan Komintern jauh lebih tersentralisasi. Menurut Anggaran Dasarnya, "Internasional Komunis, dalam kata-kata dan juga dalam tindakan, harus menjadi satu partai komunis bagi seluruh dunia. Partai-partai yang bergerak di negeri-negeri masing-masing hanya merupakan seksi-seksi dari partai tersebut." Yang kedua, Komintern berupa partai pelopor revolusioner. Dulu Lenin telah memerangi unsur-unsur non-revolusioner dalam gerakan kiri Rusia; sekarang dia melakukan hal yang sama dalam gerakan internasional. Dia menghadap unsur-unsur "sentris" (centrist), yaitu kelompok-kelompok yang ditengah-tengah antara kubu revolusioner dan kubu refrormis, dengan polemik-polemik tajam. Di saat yang sama dia mengecam pula unsur-unsur "ultra-kiri" yang sifat utamanya adalah ketidaksabaran.

Dalam tulisannya berjudal Kekiri-kirian (Left Wing Communism) Lenin menjelaskan bahwa para komunis harus bersedia bergerak di dalam serikat-serikat buruh yang konservatif atau ikut partisipasi dalam pemilihan-pemilihan borjuis, selama massa buruh dan rakyat masih percaya pada struktur-struktur semacam itu. Namun selalu dengan tujuan meyakinkan massa itu untuk putus dengan lembaga-lembaga borjuis dan reformis. Internasional Komunis mengerahkan jutaan buruh dalam perjuangan sosialis, namun akhirnya gagal juga, dan selama tahun 1920-an menjadi semakin tidak efektif sekaligus semakin didominasi oleh rezim soviet. Kenapa itu bisa terjadi? Tentu saja para pimpinan Bolsyevik, terutama Lenin dan Trotsky, amat berwibawa di mata partai-partai komunis lainnya. Mula-mula ini merupakan hal yang positif, karena partai-partai itu harus banyak belajar dari pengalaman-pengalaman Bolsyevik. Lenin berharap ini hanya akan menjadi fenomena sementara saja, karena dengan terjadinya revolusi-revolusi di barat kaum revolusioner di negeri-negeri barat mesti mengambil alih kepemimpinan. Tetapi revolusi di barat gagal. Alhasil para revolusioner di Jerman dan negeri-negeri lain semakin kehilangan kepercayaan-diri, sehingga tidak lagi berani berpikir secara independen. Sedangkan di Rusia sendiri, birokrasi Stalinis semakin menguat, sehingga akhirnya Komintern menjelma menjadi organisasi boneka rezim Stalin. Meski demikian, dokumen-dokumen dari kongres-kongres pertama Internasional Komunis sangat berguna untuk mengerti strategi dan taktik yang diajukan oleh para revolusioner paska-Oktober 1917 di tingkat global.

Penutup

Sejarah Lenin dan Partai Bolsyevik tidak lepas dari kekalahan dan kesalahan yang serius. Namun mereka berhasil menggabungkan dan menerapkan dalam praktek dua prinsip yang mahapenting. Pertama, bahwa kaum aktivis buruh serta aktivis revolusioner lainnya harus menbentuk sebuah organisasi independen yang menjunjung tinggi kepentingan kelas buruh dan rakyat tertindas untuk jangka panjang guna melakukan revolusi sosialis. Kedua, bahwa partai itu harus menjalin hubungan yang dekat dengan massa buruh dan rakyat tertindas dengan mengadakan intervensi dalam semua perjuangan, termasuk yang paling minimal sekalipun. Untuk mengkombinasikan kedua aspek ini, kaum revolusioner harus menggabungkan keteguhan dalam prinsip dengan fleksibilitas dalam taktik. Inilah yang pernah dijuluki "realpolitik revolusioner Lenin".

Kembali ke homepage